- Kam, 01 Jan 1970
- Penulis, Steffen Anugerah Wijaya
- Kategori, Vulkanisir
- 2K+
Disebut vulkanisir dingin dan vulkanisir panas dikarenakan suhu yang digunakan pada proses curing / pemasakan. Sebenarnya vulkanisir dingin juga bukan berarti sedingin es. Umumnya vulkanisir dingin menggunakan suhu 99˚C hingga 115˚C tergantung settingan mesin masing-masing perusahaan. Semakin rendah settingan suhu yang digunakan, durasi pengovenan semakin lama, begitu juga sebaliknya. Suhu tersebut tetap saja panas, namun relatif lebih “dingin” dibandingkan suhu yang digunakan vulkanisir panas yang bisa mencapai diatas 150˚C.
Mengapa demikian? Vulkanisir dingin cukup menggunakan suhu yang relatif rendah karena karet telapak vulkanisir yang digunakan sudah jadi. Sehingga hanya memerlukan suhu yang cukup untuk melelehkan dan mematangkan lem yang menjadi perekat antara ban / casing dengan karet telapak / tread.
Sedangkan pada vulkanisir panas, karet telapak yang digunakan masih setengah jadi dan belum memiliki alur atau masih polos. Sehingga perlu suhu yang cukup tinggi untuk melelehkan, membentuk alur ban, sekaligus mematangkan karet telapak vulkanisir itu sendiri.
Selain suhu sebagai pembeda, dari mesin yang digunakan hingga SOP pengerjaan juga ada perbedaan. Namun terlalu teknis apabila saya jabarkan di artikel ini. Pertanyaan selanjutnya yang sering saya dengar, mana yang lebih bagus?
Menurut saya kurang tepat apabila vulkanisir dingin dan vulkanisir panas diadu untuk menempati posisi yang lebih baik atau kurang baik. Karena menurut saya keduanya saling melengkapi tergantung kondisi ban yang akan dikerjakan. Ada ban yang akan lebih panjang umurnya apabila dikerjakan dengan sistem dingin, namun ada pula yang lebih baik dikerjakan dengan sistem panas. Semua kembali ke kebutuhan dan kasus ban yang dijumpai. Hubungi kami dan kami selalu siap membantu anda dalam mengoptimalkan masa pakai ban anda.
VULKANISIR DINGIN DAN VULKANISIR PANAS, DAN ADA APA DIANTARA MEREKA?
Sejatinya vulkanisir hanya ada sistem dingin dan panas. Namun karena mesin vulkanisir dingin yang relatif mahal dan persaingan di industri ini yang semakin ketat, muncul sistem yang mengkombinasikan keduanya, yang biasanya di Jawa dikenal dengan istilah dingin lokal atau cetak polos.
Pada sistem ini mesin yang digunakan adalah mesin vulkanisir sistem panas namun sedikit dimodifikasi pada bagian alurnya menjadi polos. Dan karet telapak menggunakan bahan yang sama seperti vulkanisir sistem dingin. Sekilas akan tidak terlihat berbeda dengan hasil akhir vulkanisir dingin. Sehingga seringkali dianggap vulkanisir dingin.
Lalu apa bedanya dengan vulkanisir dingin yang sebenarnya? Jawabannya temperature / suhu. Karena menggunakan mesin cetak panas maka suhunya tetap tinggi. Suhu yang tinggi akan berdampak pada ban secara keseluruhan. Kita tahu komposisi utama dari sebuah ban adalah karet. Dan sifat dari karet jika dipanaskan terlalu tinggi akan memperpendek umur ban itu sendiri.